ATTENTION!

DO NOT COPY without permission and full credit please

Sunday, September 15, 2013

Sinopsis Itazura Na Kiss [1996] Episode 2 (Part 2)

Posted by Unknown at 12:56 PM


Itazura na Kiss Episode 2 (PART 2)
----------------------------------------------------------------------

-The race of love and tears-
-Perlombaan cinta dan air mata-



Pagi hari, Kotoko kembali berlatih lari. Dia kembali bertemu dengan seorang kakek  yang dulu mendahuluinya, tapi kali ini Kotoko yang berlari mendahului kakek itu. Dengan bersemangat kakek itu menyapa kakek dan tersenyum lebar “ohayou gozaimasu!”
Keluarga Irie dan Aihara sedang menikmati sarapan bersama. Mama memberikan semangkuk nasi pada Kotoko, Naoki melirik sinis. 
“mangkuk keberapa kalinya itu Kotoko?” ayah melihat kearah Kotoko
“tiga” jawab Kotoko sambil menyuapkan nasi dengan sumpitnya.
“ketiga? Jaga sikapmu!”
“tidak apa-apa, Shigeo-san.” Bela mama. “Kotoko-chan aku sangat menyukai kebulatan tekadmu ! aku tersentuh. Onii-chan kita tidak ada apa-apanya dibandingkan denganmu!” kata mama lagi, melirik Naoki.
“tak masalah jika Irie-kun tidak berlatih!” kata Kotoko
“sayang sekali, bukan? Siswa SMA tanpa kegiatan apapun... tidak seperti yang kita lakukan diwaktu muda, benar kan Shigeo-san?” kata Mama menyindir Naoki. Naoki hanya bisa menghela nafas.
“Irie-chan dan aku akan ikut berpartisipasi di lomba lari desa... itu salahku kita tiba di urutan terakhir.” Kata Ayah
“Tapi kau sedang demam tinggi saat itu dan tidak mengatakannya pada siapapun!” kata Papa Irie, Mama mengangguk setuju.
“benar, kau pingsan saat tiba digaris finish!” tambah mama. “bahkan memikirkannya membuatku seperti ingin menangis.”
“Oh ya, Kotoko-chan! Kami akan turun langsung dan mendukungmu besok!” kata Mama, Naoki melirik terkejut dengan mulut penuh makanan kearah mama lalu Kotoko.
“aku akan mendukungmu juga, jadi aku akan menutup toko besok.” Kata Ayah .
“Kau tidak perlu melakukannya, Ayah!”
“Apa salahnya mendukungmu?” kata Ayah lagi.
“jangan malu! Aku juga akan turun langsung dan mendukungmu!” tambah Papa Irie.
“Ya, aku akan melakukan yang terbaik!” jawab Kotoko senang.
Yuuki yang daritadi haya mendengarkan angkat bicara,”aku tak tahan lagi! Mereka semua sangat kekanak-kanakan! Aku akan berangkat sekarang.”
Yuuki beranjak, disusul Naoki. Kotoko yang tak mau ketinggalan ikut beranjak. “Haha huh..haha huh!!” kata Ayah menyemangati sambil mengepalkan tangan. 
Kotoko ikut mengulanginya. Didepan saat Yuuki memakai sepatu dan Naoki memakai blazer-nya Kotoko menjulurkan lidah pada Yuuki. –emang childish juga sih, bener kata Yuuki, wkwkwkw-
Di perlintasan kereta api, Kotoko sedang menunggu kereta melintas. Kemudian ia melanjutkan berlari. Ia bertemu dengan Yuuki yang berjalan didepannya mendribel bola basket.

Kotoko : “Kau berjalan pulang kerumah?”
Yuuki : “ya”
Kotoko : “kau berlatih bermain bola basket?”
Yuuki : ”Ya. Onii-chan memberikan bola ini padaku. Dia memakai bola ini selama kejuaraan nasional tahun lalu.”
Kotoko menyimak, lalu mengambil bola itu dari Yuuki, “irie-kun...? bola irie-kun? Irie-kun memakai bola ini sebelumnya?” ia mengelus-ngelus bola-nya.
“jangan sentuh itu Kotoko!” seru Yuuki dan hendak merebut bolanya.
“pinjamkan padaku sebentar! Aku akan mengembalikannya secepat mungkin!” rengek Kotoko.
“jangan! Kembalikan!” Yuuki merebut bolanya dan berbalik pergi.
Dari arah berlawanan muncul pengendara sepeda yang mengendarai dengan cepat. Ia hampir menabrak Yuuki, tapi Kotoko berhasil meraih Yuuki dan menyelamatkannya. Tapi sayangnya, kaki Kotoko terlindas sepeda itu, dua kali!!
“Bodoh! Hati-hati kalau berjalan!” seru pengendara sepeda itu tidak mempedulikan Kotoko yang berteriak kesakitan.
Yuuki menghampiri Kotoko.
“Kotoko...”
“aku baik-baik saja. Yuuki-kun kau tidak apa-apa?” Yuuki mengangguk.
“Syukurlah... bola-nya juga tidak apa-apa!” kata Kotoko, mengelus bola yang dipegang Yuuki.
“ini bukan salahku. Ini bukan salahku!” seru Yuuki lalu berlari meninggalkan Kotoko. Kotoko tidak bisa berdiri, kakinya terluka. Ia menatap Yuuki yang sudah berlari jauh, “Yuuki-kun.....”

-Hari Perlombaan-
Kelas F berkumpul, semuanya sudah siap untuk berlomba. “Kita akan mengalahkan kelas A!” teriak Kin-chan bersemangat.
Reiko Matsumoto  dan 2 siswa kelas A yang lainnya datang menghampiri mereka.
Siswi 1 : “mereka yang dari kelas F adalah orang-orang bodoh.”
Reiko : “Benar sekali, selain olahraga, mereka tidak bisa melakukan hal lain. “
Siswi 2 : “Benar! Tak berguna!”
Wali kelas F datang menghampiri. “apa yang kalian bertiga lakukan disini. Ayo kemari.” ia berbalik lalu menoleh dan menatap sinis pada wali kelas F. Wali kelas F dan para murid terlihat kesal karena ulah mereka.
“Aihara!! Jangan pedulikan mereka! Kita harus melakukan yang terbaik!!” kata wali kelas F. Mereka semua berteriak bersemangat. Ibu guru wali kelas A melirik sinis kearah mereka.

Wali kelas A : “Dengarkan! Jangan buang-buang energi-mu dalam perlombaan lari ini! Dalam rangka untuk dapat diterima di Universitas terbaik kalian harus menyimpan energi kalian untuk belajar.”
Watanabe : “benar sekali. Menghabiskan hari minggu seperti ini adalah buang-buang waktu, benar kan?” ia melirik Naoki.
Naoki : “kita bisa menganggapnya sebagai penggan fitness fisik kita” jawab Naoki sambil terus melihat kearah kelas F.
Watanabe : “lalu itu tak bisa ditahan lagi.”
Kelas F masih riuh bersemangat. Kotoko menatap kearah Naoki, tiba-tiba ia merasakan sakit pada kaki-nya.
“Kotoko, apa ada masalah?” kata Satomi.
Kotoko menggeleng,memijat-mijat kakinya “tidak, aku baik-baik saja.”
“Tunjukkan kemampuan terbaikmu, Kotoko!” kata Satomi lagi.
“kita akan makan besar setelah memenangkan pertandingan!” kata Jinko, Kotoko mengangguk senang.

Terdengar peluit ditiup. Wali kelas F memberikan pengumuman. “bisakah pelari pertama berkumpul disini! Dan pelari lainnya silahkan berkumpul di titik setengah jalan”.
Naoki berjalan, Kin-chan mengejarnya. Kotoko berjalan lesu disampingnya.
“kau harus berhati-hati denganku. Kami pasti tidak akan kalah dari kalian, siswa kelas A! Benar kan Kotoko!?” seru Kin-chan. Kotoko mengangguk lesu. Naoki tidak mengacuhkan Kin-chan.
“ada apa denganmu! Mana semangat bertanding-mu?” kata Kin-chan lagi. Naoki menatap mereka.

“Kau, tunggu dan lihatlah!! Aku akan menunjukkan padamu bagaimana seorang juara itu! ” kata Kotoko pada Naoki, tiba-tiba ia bersemangat lagi.
“aku akan mengantisipasi hasilnya.” Jawab Naoki, lalu berjalan pergi.
 
Perlombaan lari dimulai...
Semuanya riuh menyemangati peserta lari. Kotoko sedang melakukan pemanasan, Jinko dan Satomi datang menyemangati. Lalu mereka melihat peserta dari kelas F mendekat, Kotoko segera bersiap. Ia segera mengabil selempang (baton) dari peserta sebelumnya.
Saat berlari, Kotoko merasakan kaki kanannya sakit –akibat terlindas sepeda- tapi dia menahannya, tidak ingin orang lain tau dan tetap melanjutkan berlari.

Naoki sedang melakukan pemanasan, ia melirik Kin-chan yang berlari-lari kecil disampingnya. Reiko datang menghampiri Naoki.
“kau tidak serius kan memberikan semua tenagamu untuk perlombaan ini? Aptitude tes (bakat) sebentar lagi. Dan kejuaraan nasional bola basket juga mendekati. Itu akan menjadi kejuaraan terakhir kita di SMA” Reiko mengingatkan.

“aku tahu.” Jawab Naoki singkat.
“ini tidak layak, menghabiskan semua energimu hanya untuk hal sepele seperti ini. Apa kau mendengarkanku, Naoki?”
“aku dengar” jawab Naoki dingin, pandangannya kearah lain.

Kotoko berlari tertatih. Ia berusaha keras saat peserta lain hampir menyusulnya.
“aku harus berusaha keras... Irie-kun...”
 
Ditempat lain, Keluarga Irie dan Ayah Aihara menunggu Kotoko. Kin-chan terlihat tidak sabar.
“apa yang dilakukan Kotoko-chan?” kata Mama Irie.
“Anak itu berlari lamban. “ Kata Ayah Aihara
“Setelah berlatih keras, dia tidak akan memiliki masalah” kata Papa Irie
“Benar sekali, dia berusaha sangat keras!” tambah Mama Irie.
Ayah menatap kearah lintasan lari. Yuuki duduk melamun, Ayah yang memperhatikannya lalu menghampiri Yuuki “ada apa, Yuuki-kun?”
“Oji-san (paman), aku...aku...”
 
Kotoko berusaha berlari sambil menahan sakit, ia mulai melamun dan bicara dalam hati.
“aku...tak bisa terima... irie-kun...irie-kun...” ia mulai membayangkan Naoki yang tersenyum sambil melemparkan handuk pada Kotoko. –scene sebelumnya-
“aku harus berjuang! Irie-kun sedang menungguku.”
Kotoko berlari lebih cepat meskipun tertatih.
Di depan, Kin-chan harap-harap cemas menunggu Kotoko. Naoki yang berdiri disebelah Kin-chan sepertinya ikut mengkhawatirkan Kotoko, ia memandang lurus kedepan.
Kotoko berjalan kepayahan menyeret kaki kanannya yang sakit, ia basah oleh keringat. “aku harus berjuang...aku harus berjuang...aku harus berjuang Irie-kun...” lalu ia oleng hampir terjatuh, tapi berhasil berpegangan pada pembatas jalan. Peserta lain melewati Kotoko-begitu saja.
“Kotoko!! kau baik-baik saja?” seru Ayah, ia menghampiri Kotoko
“kenapa dengan kakimu?” kata ayah lagi sambil meraih kaki Kotoko. tapi Kotoko menolak kakinya dilihat ayah dan ia berjalan lagi. “aku harus berjuang! Aku harus menyelesaikan perlombaan ini!”. Sepertinya Yuuki menceritakan kejadian kaki kotoko yang terlindas sepeda.
Ayah yang melihat kesungguhan Kotoko memutuskan untuk ikut lari mendampingi Kotoko. Ayah membuka sendalnya (kayak bakiak gitu, apa tuh namanya hehe) lalu menyemangati Kotoko, “kau bisa melakukannya Kotoko!”
Mama bersorak saat melihat dari kejauhan Kotoko dan Ayah hampir sampai, semuanya riuh menyemangati. Kin-chan yang melihat Kotoko datang ikut berteriak, “Kotoko!! kau baik-baik saja??” 
Sementara Naoki memperhatikan Kotoko, ia menyadari ada yang salah dari cara Kotoko berlari. Naoki memicingkan mata melihat kaki Kotoko.
Mama juga menyadari kaki Kotoko sakit. “Kotoko-chan, apa yang terjadi pada kakimu?” tapi Kotoko tak menjawabnya. Terlihat Yuuki yang berlari dibelakang Kotoko termenung.
 
Dengan susah payah Kotoko terus berlari, didepan Kin-chan menunggunya dengan semangat. Kotoko melepaskan selempang (baton), memegangnya dan mengulurkan tangannya sambil berkata dalam hatinya, “Irie-kun...”. Kin-chan tersenyum lebar melihat Kotoko datang menghampiri, ia bersiap mengambil alih selendang itu. Tapi Kin-chan memandang heran Kotoko yang malah menghampiri Naoki dan mengulurkan selendang itu ke Naoki. Naoki yang dipanggil Kotoko menoleh heran. 
“Irie-kun...”
“Apa yang kau lakukan?” kata Naoki

Kotoko yang mendengar reaksi Naoki terpaku, lalu menoleh kearah Kin-chan dan Naoki bergantian, ia tertawa malu. “Bakka” kata Naoki. Kotoko tertawa, “aku benar-benar bodoh ya” ia tiba-tiba terjatuh lemas.
“Kotoko, apa yang terjadi?” kata Kin-chan
“Kin-chan, lanjutkan. Lakukan yang terbaik!”
“Tapi Kotoko...”
“kumohon berlarilah di sisa perlombaan ini untuk-ku.” Kotoko menyerahkan selempangnya.
“kau tunggu dan lihatlah! Aku akan berlari diurutan pertama!!” kata Kin-chan, lalu ia berlari.
 
Naoki menghampiri Kotoko, ia menyentuh kaki Kotoko.
“Ouch!!” Kotoko memprotes.
“Apa itu sakit?” tanya Naoki.
“TENTU SAJA sakit!”
“kau bodoh padahal kau tau itu sakit.”
“tapi jika aku menyerah ditengah jalan, aku akan menyesalinya seumur hidupku! Aku akan merasa lebih buruk!”
Naoki menghela nafas. Tiba-tiba Reiko datang dan memberitahu bahwa peserta kelas A hampir sampai.
“Naoki! jangan lupa taruhan kita!!” Kata Kotoko. Naoki mengangguk.
Tiba giliran Naoki berlari. Kotoko memandang Naoki yang mulai menjauh. Semua orang menyemangati Naoki. 1,2,3 orang terlewati hingga Naoki berhasil mengejar Kin-chan yang start lebih dulu darinya. Meskipun wali kelas dan murid kelas A menyuruh untuk tidak serius mengikuti lomba dan fokus pada ujian mendatang, tapi sepertinya Naoki serius mengikuti perlombaan ini.
Mama Irie mengajak Kotoko pulang dan menyuruh Ayah Aihara menyetir mobil. Baru saja Mama akan memakaikan jaket pada Kotoko, ia beranjak. “aku sangat ingin melihat Irie-kun!” kata Kotoko meyakinkan. ia lalu berbalik pergi dengan berjalan tertatih. Mama mencoba mengejar Kotoko, tapi Ayah menahannya, “Machan! Tidak ada gunanya menghentikan dia”. Kotoko terus berjalan sambil menahan sakitnya, keringat membasahi tubuhnya, tangan kanannya memegangi kakinya yang diseret (aduh bahasanya).
 
Naoki dan Kin-chan berlari saling mengejar. Naoki berhasil mengejar Kin-chan dan berlari paling depan. Kin-chan sudah kelelahan, terlihat dari ekspresinya dia sangat berusaha mengejar Naoki tapi Naoki sudah meninggalkan Kin-chan jauh di belakang. 

Naoki sempat menengok kearah Kin-chan dan kembali mempercepat langkahnya, akhirnya Naoki sampai di garis finish sebagai juara pertama. 
Wali kelas A menunjukkan ekspresi puas, Watanabe dan Reiko -yang memegang handuk ditangannya- langsung menghampiri Naoki dengan tersenyum puas. Sementara di sisi lain Kelas F terlihat lesu, tak ada semangat yang tersisa.
“terima kasih atas usaha kerasmu!” kata Watanabe. Naoki melemparkan selempang (baton) pada Watanabe dan menerima handuk yang diberikan Reiko. Kin-chan tiba di garis finish, ia berteriak meluapkan kekesalannya lalu tiba-tiba ambruk. Kelas F langsung berlari menghampiri Kin-chan. Wali kelas F memegangi Kin-chan.

“Kin-chan, kau telah melakukan yang terbaik! Itu sangat hebat, kau sangat hebat!!” wali kelas lalu memeluk Kin-chan.
“penampilan tadi sangat bagus,Irie-kun. Aku sangat bangga menjadi guru-mu” Wali kelas A mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Naoki. Naoki hanya memandangi tangan wali kelas, “terima kasih” katanya mengangguk lalu pergi meninggalkan wali kelas yang melongo. hahaha... Naoki berjalan, menyeka keringatnya. nafasnya masih terengah , sepertinya ia memikirkan sesuatu.

Kotoko masih berjalan sendiri, ia berkata dalam hati.
“apakah Irie-kun berlari dengan serius? Aku ingin sekali melihat dia berlari.”
Lamunan Kotoko tersadar saat seseorang memanggil namanya. Ternyata Kotoko sudah hampir mendekati garis finish. Siswa kelas F berlari menghampiri Kotoko.
“Kotoko, maafkan kami, kita kalah dari Irie!”
Bukannya menunjukkan wajah kecewa, Kotoko malah tersenyum.
“apa sudah selesai?” tanya Kotoko.
“kau mengerahkan semua kemampuanmu, kotoko! Kau sangat keren!”

“aku baru saja melihat garis finish... aku benar-benar bodoh...” kata Kotoko lagi, ia ambruk. Semua kelas F kaget dan duduk disamping Kotoko, membuat keributan. Salah satu dari mereka menyenggol kaki Kotoko yang luka. “Kotoko, kau baik-baik saja?” tanya Jinko. Kotoko berteriak kesakitan.

Kotoko berjalan pulang sendiri. Dia melihat Naoki berjalan didepannya, ia lalu memanggil dan mengejarnya.
“Omedettou!” Kata Kotoko dengan ceria. Naoki bertahan dengan sikap dinginnya tidak menjawab Kotoko.
“Aku kalah lagi. Orang yang jenius adalah orang yang jenius sesungguhnya!” kata Kotoko lagi. Naoki masih tidak menjawabnya. 
Kotoko berjalan didepan Naoki, tiba-tiba ia terjatuh pingsan. Naoki dengan sigap menangkap Kotoko, dan berhasil menahannya. Namun naas, siku tangan Naoki terbentur jalan karena menahan kepala Kotoko. Naoki meringis kesakitan.
Kotoko masih tidak sadar, Naoki menggendongnya. Ia lalu bangun dan menyadari Naoki menggendongnya. Kotoko tertawa senang.
“Kau benar-benar bodoh.” Kata Naoki yang menyadari Kotoko telah bangun.
“maafkan aku. Turunkan aku! “ rengek Kotoko berontak.
“Berhenti bergerak, berhenti bergerak!” seru Naoki. 
Kotoko menurut, malah ia berpegangan erat memeluk Naoki. Naoki sendiri tidak menolaknya. Ciyeeee
Kotoko berkata dalam hati, “punggung Irie-kun hangat sekali... aku harap moment ini bisa bertahan selamanya...tak peduli apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah melupakan saat ini!”. Kotoko terlihat sangat nyaman bersama Naoki, mereka akhirnya tiba dirumah. 
 
Tak jauh dibelakang mereka ada seseorang yang mengikuti, tenyata itu Reiko! Reiko kecewa melihat Naoki dan Kotoko bersama.
Malam harinya di kediaman keluarga Irie. Kotoko berjalan menuruni tangga. Ia membawa beberapa tas berisi penuh. Dibawah, Naoki sedang duduk serius membaca buku. Kotoko melihatnya dan terdiam beberapa saat lalu menghampiri Naoki.
“Irie-kun... Maafkan aku sudah menyebabkan begitu banyak masalah.”
Naoki masih diam tak acuh.
“Aku menghargai pertaruhan kita dengan pergi dari rumah ini, sekarang. “
Naoki masih saja diam.
“terima kasih telah menjagaku selama ini... selamat tinggal.”
Merasa tidak dihiraukan, Kotoko lalu berbalik hendak pergi. Tapi kemudian Naoki memanggilnya.
“Oy...”, Kotoko menengok. Naoki menghampiri Kotoko.
“sebagai tanda kerja keras yang telah kau lakukan, aku akan berpura-pura tidak tahu.”
Kotoko kaget mendengar ucapan Naoki, dia pikir itu hal bagus. Tapi tiba-tiba Naoki mengatakan selamat tinggal. Kotoko kembali menunduk.
“Irie-kun...!” seru Kotoko
“apa?”
“jika aku berusaha lebih keras lagi, akankah kau menerimaku? Saat ini kau meremehkanku dan membenciku. Jika aku berusaha lebih keras lagi, mungkin kau akan memandangku dalam pandangan berbeda. Aku berharap untuk tetap tinggal hingga saat nanti. Aku ingin berusaha keras disini!” kata Kotoko menjelaskan dan memohon pada Naoki.
Naoki memandang Kotoko serius, “apa yang kau katakan?”
Kotoko menyela omongan Naoki, “kumohon, biarkan aku kali ini saja!”
“kau...”
“aku berjanji! Aku akan memegang janji ini mulai hari ini dan seterusnya. Kumohon...” Kotoko memohon.
Naoki terlihat berpikir dan memandang Kotoko. tanpa memberikan jawaban pada Kotoko, Naoki berlalu pergi. 
Kotoko berkata dalam hatinya, “dia tidak menyuruhku untuk pergi... itu artinya aku bisa tetap tinggal!” Kotoko meneteskan air mata. “terima kasih, Irie-kun!”


Naoki masuk kedalam kamarnya, ia menutup pintu dan menghela nafas. Naoki melihat Yuuki tertidur di meja belajarnya, di depannya terdapat sebuah gambar milik Yuuki dan catatan dibawahnya.
“hari ini adalah pertama kalinya aku terpukul oleh hati nuraniku. Semuanya karena kesalahan Kotoko. dia benar-benar malang. Tapi kenapa Onii-chan (Naoki) ...”
Naoki menutup buku Yuuki dan mengelus kepalanya. Ia kemudian menggendong Yuuki ke tempat tidur. Siku tangannya mulai terasa sakit, Naoki meringis kesakitan memegangi tangannya. 
Esok harinya disekolah. Kotoko berjalan sanbil tersenyum bersemangat. Tapi tiba-tiba seseorang menariknya dan tamparan mendarat dipipinya, Itu Reiko Matsumoto! Kotoko terkejut!
“Ini semua salahmu! Naoki tidak bisa ikut berpartisipasi dalam kompetisi terakhir karenamu!!”
Naoki berjalan sendiri, ia menyandang tangan kirinya yang di perban.
 
“itulah mengapa itu seperti yang aku katakan tadi, tanpa Irie-kun, team bola basket tidak akan pernah bisa masuk ke babak final! Jadi bagaimana menurutmu apa yang harus aku lakukan? Ini semua karena kesalahan Aihara. Ini semua disebabkan oleh Aihara dari kelas F!“ Wali kelas A memarahi Wali kelas F di ruang guru, ia juga bersama Kepala Sekolah yang hanya mendengarkan tanpa bisa membalas. 
“apa yang harus kulakukan.... aku adalah orang yang menyebabkan Irie-kun ....” Kotoko diam terpaku, tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

Bersambung...
lanjut di episode 3!
By : Widia

0 comments:

 

Widia's Diary Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea